Home » , » Rezeki Yang Berkah

Rezeki Yang Berkah

Written By Yayasan Kilau Indonesia on Rabu, 05 Agustus 2015 | 07.24

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Senang sekali bisa bertemu kembali dengan para pembaca Kilau yang budiman...

Iedul Fitri baru saja meninggalkan kita, permohonan maaf yang tulus penulis sampaikan kepada pembaca semua.

Sepertinya kita semua sama, meninggalkan Ramadhan dan bertemu Syawal ada senang dan ada sedih yang bercampur menjadi satu. Senang karena kita telah menjalankan kewajiban sebulan penuh selama Ramadhan dan dipertemukan dengan 1 Syawal sebagai Hari kemenangan.. sedih karena kita meninggalkan ladang pahala yang luar biasa, suasana kebersamaan dalam beribadah selama Ramadhan. Bulan yang jika di tunggu, harus dengan sebelas bulan kita bersabar untuk bertemu. Itupun kalau kita masih di beri rezeki berupa kesempatan berumur panjang dari Allah SWT.

       Pembaca yang budiman..  

Bicara soal Rezeki, terkadang ukuran manusia hanya mengaitkan rezeki itu dengan uang, harta benda atau segala sesuatu  yang berkaitan selalu dengan rezeki duniawi. Marilah kita cermati; bahwa rezeki berupa harta sebenarnya hanya sebagian saja dari rezeki Allah yang di berikan kepada MahlukNya. Namun umumnya manusia senantiasa menganggap rezeki lebih berorientasi pada dan berkonotasi dengan gemerlapnya dunia yang fana sehingga rezeki hanyalah harta duniawi semata. Mari kita lihat pengertian istilah dari arti kata rezeki. Rezeki menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah segala sesuatu yg dipakai untuk memelihara kehidupan (yg diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; kata lainnya berarti  penghidupan; pendapatan (uang dsb untuk memelihara kehidupan); keuntungan; kesempatan mendapat makan.



Bagaimana pandangan islam tentang rezeki ?

Rezeki dalam Islam melingkupi semua apa yang ada dalam kehidupan manusia. Allah Ta'la telah banyak memberi rezeki kepada manusia dengan beragam bentuk. Ada rezeki yang bersifat umum (الرزق العم )yakni segala sesuatu yang memberikan manfaat bagi badan,  berupa harta, rumah, kendaraan, kesehatan,kesempatan,kecerdasan, istri, suami, anak, orang tua, teman,dan selainnya, baik berasal dari yang halal maupun haram. Rezeki jenis ini Allah berikan kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang muslim maupun orang kafir. Berikutnya Rezeki yang sifatnya khusus (الرزق الخاص )

Yakni segala sesuatu yang membuat tegak agama seseorang. Rezeki jenis ini berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih serta semua rezeki halal yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah. Inilah rezeki yang Allah berikan khusus kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Inilah rezeki yang hakiki, yang menghantarkan seseorang akan mendapat kebahagiaan dunia akherat.



Itulah mengapa Allah mengingatkan manusia bahwa nikmat (rezeki) Allah terhadap manusia sungguh tidak akan pernah bisa dihitung. Sebab, Allah telah menyediakan untuk umat manusia apa saja yang manusia perlukan pada segala situasi dan kondisi, tinggal bagaimana kita memanfaatkan dan menggunakan rezeki kita agar kita bisa mendapatkan nikmat sebagai tanda syukur kepada Allah, dan berusaha untuk menjauhi sikap zalim kepada Allah dengan menghitung hitungnya seperti yang dimaksud ayat  berikut ini..



وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS: Ibrahim [14]: 34).



Namun simaklah salah satu ayat dari Surat Al Hajj berikut ini :

Maka orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (QS. 22 : 50).

Jelaslah, makna orang yang mendapatkan rezeki lantas berusaha untuk mensyukuri dengan tidak menghitung hitungnya itulah orang orang  yang dipilihNya untuk mendapatkan rezeki yang berkah.

Bagaimanakah rezeki yang berkah itu? Apakah itu berarti banyak ?



Pembaca yang budiman..

Rezeki banyak melimpah tidak sama konsepnya dengan rezeki yang halal dan berkah. Bisa jadi seseorang mempunyai rezeki yang banyak tetapi tidak terdapat keberkahan di dalamnya. Makna kata berkah sendiri berarti al-ziyadah yang artinya bertambah dan al-namaa yang artinya tumbuh ber

kembang. Menurut Imam Al Baghawy, yang dimaksud dengan barakah adalah tetapnya kebaikan ilahiy dalam sesuatu. Sudah barang tentu bahwa di dalam Islam rezeki yang diinginkan adalah rezeki yang bertambah dan mengandung kebaikan di dalamnya. Sehingga jika seseorang mempunyai rezeki yang berkah, maka rezekinya bertambah juga  terdapat pula banyak kebaikan yang tiada berkurang.

Bagaimanakah tuntunan Rasullallah SAW mengajarkan kepada kita agar rezeki kita lancar dan berkah ?

Menjauhi pekerjaan yang haram dan syubhat. Hal ini mengandung makna bahwa kita mencari rezeki di upayakan tidak melakukan dosa. Karena dosa menutup pintu rezeki. Rasulullah bersabda: “… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki karena dosa yang dibuatnya. (Riwayat at-Tirmizi). maka mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sholat Dhuha dan Tahajud.Bekerja sungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya Allah Taala senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Adailami)Mengadukan masalah rezeki ini hanya kepada Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW Barangsiapa tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan tertutup kemiskinannya itu. Namun, siapa saja yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberinya rezeki, baik segera ataupun lambat.[HR. Abu Dawud dan Turmidziy, Abu 'Isa berkata hadits ini hasan shahih gharib]Banyak membaca istighfar.Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah swt akan menjadikan setiap kesulitan dengan kelapangan, dan setiap kesempitan dengan jalan keluar, dan Allah akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak pernah disangka-sangkanya. [HR. Imam Ahmad dalam Musnad]Sabar dan banyak membaca la hawla wa la quwwata illa billah.Tawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.   Karena Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak di sangka sangkanya, Dan barangsiapa bertawakal  kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya(QS 65 : 3)  dan Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Allah telah memberi rezeki kepada burung yang berangkat di pagi buta dengan perut kosong, dan kembali ke sarangnya dengan perut kenyang.[HR. Bukhari]

Bershadaqahlah dan Nafkahkanlah harta tersebut kepada yang berhak. Rasulullah bersabda Ada tiga hal yang aku bersumpah kepadanya dan aku akan menyampaikan suatu berita kepadamu, maka perhatikan benar-benar. Tiadalah akan berkurang harta seseorang karena shadaqah.dan tiadalah seseorang membuka pintu meminta-minta melainkan Allah akan membukakan kepadanya pintu kemiskinan.[HR. Turmudziyy] Janganlah kamu menutup-nutupi apa yang kamu miliki, niscaya Allah akan menutupi rizkimu. Dalam riwayat lain dinyatakan, Nafkahkanlah hartamu serta jangan kamu menghitung-hitungnya, maka Allah swt akan menghitung-hitungnya untukmu; dan janganlah kamu menakar-nakarnya, niscaya Allah Alah menakar-nakarnya untuk kamu. [HR. Bukhari dan Muslim]Tolonglah Agama Allah dengan menegakkan Syariat Islam secara kaffah. Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 7: Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu

Menyimak tuntutan Rosulallah SAW di atas , hendaklah kita memulainya sepenuh hati dengan keikhlasan,  tidak mencoba menghitung hitungnya, berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan meminta dan mengadukan masalah rezeki kita hanya kepadaNya sehingga ada 2 perkara penting yang perlu kita miliki yakni iman dan amal sholeh,. Hal inilah yang akan dapat mengantarkan jiwa kita untuk bisa mendapatkan rezeki yang mulia dari  Yang Maha pemilik Kekayaan..



Sangat tidak patut bahkan sangat tercela bila ada seorang Muslim merasa terhina hanya karena kurang harta. Apalagi kalau sampai berani mengambil keputusan tidak benar dalam hidupnya karena alasan kemiskinan. Sebab, rezeki yang paling mulia adalah surga, bukan harta atau benda.



Itulah mengapa, para Nabi dan Rasul tidak pernah berbangga dengan harta dan benda. Bahkan para Nabi dan Rasul itu lebih memilih hidup susah demi rezeki yang mulia di sisi-Nya. Namun demikian, Islam tidak mengharamkan umatnya kaya raya. Karena kekayaan yang disertai iman juga bisa mengantarkan seseorang pada derajat yang mulia di sisi-Nya.

Teriring pesan singkat dari pembahasan Rezeki yang berkah dan mulia,

Apabila engkau mendengar firman Allah Taala (wa rizqun karim) Dan rezeki yang mulia, maka rezeki yang mulia itu adalah surga.

Wassalamu 'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..


 Indramayu, 02 Agustus 2015
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : OBRAL BLOG | Blog Developer
Copyright © 2012. Kilau - Lembaga Kemanusiaan - All Rights Reserved