Home » » Indikator Perjalanan yang Konsisten

Indikator Perjalanan yang Konsisten

Written By Yayasan Kilau Indonesia on Sabtu, 21 April 2012 | 02.28


Setelah Anda memiliki cita-cita mulia, barulah Anda berupaya untuk konsisten memperjuangkan cita-cita tersebut. Tidak masalah apakah Anda mencapai cita-cita tersebut atau tidak asalkan Anda selalu berusaha memperjuangkan tercapainya cita-cita tersebut, Anda telah berada dalam kesuksesan, bahkan kesuksesan tanpa henti.

Pertanyaannya adalah apa indikator dari perjalanan yang konsisten menuju cita-cita mulia? Beberapa hal di bawah ini dapat menjadi indikasi untuk mengukur sejauh mana konsistensi Anda dalam berjalan menuju cita-cita mulia, sehingga Anda dapat dikatakan tetap memperoleh sukses tanpa henti :

1. Pikiran dan orientasi Anda selalu kepada pencapaian cita-cita mulia
Selama Anda selalu berpikir dan berorientasi kepada cara untuk mencapai cita-cita mulia berarti Anda tetap berada dalam kesuksesan. Tidak peduli apakah Anda memikirkannya di alam sadar atau di alam bawah sadar Anda. Bahkan sebenarnya ketika alam bawah sadar selalu berpikir untuk mencapai cita-cita, hal itu menunjukkan kemapanan dan kekokohan dari orientasi Anda terhadap pencapaian cita-cita. Ini lebih baik. Sebab ketika alam bawah sadar turut bekerja untuk mencapai cita-cita, energi tubuh Anda akan bekerja secara refleks membentuk kebiasaan-kebiasaan yang mendukung pencapaian cita-cita Anda.

2. Prioritas kegiatan Anda lebih banyak untuk mencapai cita-cita mulia
Anda tidak dikatakan sebagai orang yang selalu berpikir kepada pencapaian cita-cita mulia jika waktu Anda tidak diprioritaskan untuk mencapai cita-cita tersebut. Indikatornya adalah seberapa lama Anda mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk mencapai cita-cita mulia jika dibandingkan apa yang Anda korbankan untuk hal-hal lain di luar pencapaian cita-cita mulia Anda. Semakin lama waktu yang Anda prioritaskan untuk pencapaian cita-cita mulia berarti semakin sukses Anda. Sebaliknya, semakin sedikit waktu yang Anda berikan untuk mencapai cita-cita mulia berarti semakin jauh Anda dari kesuksesan. Disini dibutuhkan keberanian untuk mengatakan ‘tidak’ kepada setiap ajakan atau tawaran beraktivitas di luar pencapaian cita-cita mulia. Anda harus fokus kepada pencapaian cita-cita Anda.

3. Upaya Anda mencapai cita-cita dilakukan dengan cara-cara yang benar
Tidak ada rumus menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-cita. Jika Anda berhasil mencapai cita-cita tapi dengan cara melanggar kebenaran universal, Anda telah gagal sebelum berhasil mencapai cita-cita. Hasil yang Anda dapatkan bukanlah kesuksesan sejati, tapi kesuksesan semu.

4. Anda terus mencoba mencapai cita-cita walau gagal berungkali
Jika Anda terus mencoba walau gagal berungkali untuk mencapai cita-cita berarti Anda tetap sukses. Kegagalan dalam mencapai cita-cita mulia bukanlah kegagalan sesungguhnya. Ia merupakan takdir dan misteri Ilahi. Hal itu berada di luar kendali Anda. Tugas Anda hanyalah berusaha semaksimal mungkin dengan terus mencoba dan mencoba tanpa putus asa. Alexander Pope mengatakan: “Semua orang tidak perlu malu karena berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.”

5. Perubahan cita-cita boleh dilakukan asalkan tidak bertentangan dengan kebenaran universal
Bukan hal yang tabu untuk merubah cita-cita. Ketika Anda mencoba berulang kali dan ternyata gagal mencapai cita-cita, sah-sah saja bagi Anda untuk mengubahnya. Namun perubahan cita-cita tidak boleh bertentangan dengan kebenaran universal. Cita-cita baru Anda harus tetap sesuai dengan kebenaran universal jika Anda ingin terus memperoleh kesuksesan tanpa henti.

Jika seluruh indikator di atas ada di dalam perjalanan hidup Anda saat ini berarti Anda telah sukses. Jangan kecil hati dan merasa gagal walau Anda belum berhasil mencapai cita-cita mulia. Sebaliknya, kekayaan, ketenaran atau kedudukan yang Anda miliki saat ini adalah kegagalan jika hidup Anda saat ini bukan untuk mengejar cita-cita mulia. Ketika Anda berhenti dan hanya menjadikan kekayaan, ketenaran atau kedudukan sebagai cita-cita Anda ansich.

Terus Bertumbuh

Proses yang konsisten menuju cita-cita juga mengharuskan Anda untuk selalu bertumbuh. Artinya, Anda harus selalu meningkatkan kualitas diri ke arah pencapaian cita-cita mulia. Cita-cita mulia akan semakin sulit dicapai jika Anda tidak meningkatkan kualitas diri. Misalnya, Anda bercita-cita menjadi pengacara, maka Anda perlu membekali diri secara terus menerus dengan ilmu dan pengalaman sebagai pengacara. Jika Anda telah berhasil menjadi pengacara, Anda juga tidak boleh berhenti untuk meningkatkan kualitas diri Anda sebagai pengacara. Hal ini agar Anda tetap bertahan (survive) menjadi pengacara dan memiliki daya kompetitif yang tinggi sebagai pengacara.

Terus bertumbuh adalah hal yang tak bisa tidak harus Anda lakukan jika ingin sukses di dunia. Tanpa kemampuan untuk terus bertumbuh, Anda –cepat atau lambat—akan tertinggal dalam persaingan hidup yang semakin ketat saat ini. Betapa banyak contoh orang yang tadinya telah berhasil meraih cita-citanya, namun karena tidak terus bertumbuh akhirnya mandeg dan tidak bisa lagi meraih cita-cita yang lebih besar.

Lagi pula terus bertumbuh adalah hukum alam. Alam menghendaki agar isi alam ini (termasuk manusia di dalamnya) untuk terus bertumbuh. Alam selalu berubah dan terus bertumbuh. Lingkungan di mana Anda tinggal terus bertumbuh dan berubah. Hewan dan tanam-tanaman di sekitar Anda juga terus bertumbuh. Diri Anda pun juga terus tumbuh dan berubah. Jadi terus bertumbuh adalah hukum alam yang tak bisa kita lawan jika ingin survive dan sukses dalam kehidupan ini.

Pertanyaannya adalah apa indikasi dari seseorang yang terus bertumbuh? Indikasinya terlihat pada semakin berkembangnya potensi yang dimiliki seseorang menjadi kinerja (performance) harian. Potensi adalah kelebihan ‘tersembunyi’ yang dimiliki seseorang. Dikatakan ‘tersembunyi’ karena kelebihan tersebut belum terlihat dalam kinerja seseorang. Potensi tersebut berkembang dari hari ke hari karena selalu ada upaya dari orang tersebut untuk mengasahnya. Misalnya, seseorang yang memiliki potensi sebagai penulis, selalu meluangkan waktunya untuk meningkatkan kemampuan menulis, sehingga hasil tulisannya semakin baik dari hari ke hari. Inilah yang dimaksud terus bertumbuh. Selalu meningkat kemampuannya tanpa pernah berhenti. Walau cita-citanya telah tercapai, ia akan terus bertumbuh sampai hayat dikandung badan.

Orang yang terus bertumbuh mempunyai prinsip sedikit lebih baik dari hari kemarin. Setiap hari harus ada peningkatan kualitas dalam tiga hal : karakter, wawasan dan pengalaman. Karakter yang semakin sesuai dengan integritas cita-citanya. Wawasan yang semakin luas dan bijaksana tentang cita-citanya. Pengalaman yang semakin banyak tentang hal-hal yang terkait dengan cita-citanya. Misalnya, jika Anda bercita-cita menjadi akuntan, maka setiap hari perlu ada peningkatan kualitas diri Anda menuju cita-cita yang Anda harapkan. Karakter Anda harus semakin sesuai dengan integritas yang dituntut profesi akuntan. Wawasan Anda semakin luas dengan ilmu akuntansi kontemporer. Pengalaman Anda semakin banyak tentang praktek-praktek akuntansi.

Pendek kata orang yang terus bertumbuh adalah orang yang selalu belajar dan belajar (learning individual). Ia paham betul bahwa apa yang dibangunnya pada hari ini akan menjadi kesuksesannya di masa depan. Ia berupaya menunaikan sabda Nabi Muhammad, “Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia beruntung”.

Cara untuk Memulai Proses yang Konsisten Menuju Cita-Cita Mulia

Berikut ini petunjuk praktis bagi Anda untuk memulai sukses dengan cara berproses secara konsisten menuju cita-cita mulia :

1. Renungkan kembali apa cita-cita Anda. Coba bayangkan seperti apa Anda hendak dikenang orang lain setelah meninggal dunia. Bisa juga dengan membayangkan seperti apa Anda kelak beberapa saat sebelum ajal tiba. Bayangkan itu dan tulislah di atas kertas hanya dengan satu kalimat.

Mungkin Anda perlu memperbaiki kalimat cita-cita Anda berulang kali sampai Anda menemukan kalimat yang cocok untuk menggambarkan cita-cita Anda. Jangan menulis cita-cita Anda dengan kalimat yang abstrak dan tidak terukur, seperti : “Saya ingin menjadi orang baik”, “Saya ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa”, “Saya ingin menjadi orang yang bertakwa” atau kalimat lain yang semisalnya. Tulislah cita-cita Anda dengan kalimat terukur dan dapat Anda bayangkan secara jelas seperti apa wujudnya kelak. Misalnya, “Menjadi ahli hukum yang terpercaya”, “Saya ingin menjadi pengusaha ekspor-impor”, “Saya ingin menjadi penulis fiksi ternama, “Menjadi pegawai negeri di bidang keuangan yang ahli dan berkarir dengan baik”, Ingin menjadi pegawai swasta di bidang teknologi informasi”, “Saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang berhasil mendampingi anak-anak saya menjadi orang sukses di dunia dan akhirat”, dan cita-cita lain yang semisalnya.

Luangkan waktu Anda sejenak untuk memikirkan kembali cita-cita Anda. Tulis cita-cita di selembar kertas.

2. Setelah Anda mengetahui cita-cita Anda dengan jelas dan terukur, buatlah sasaran jangka pendek untuk mencapai cita-cita. Buat sasaran untuk setahun ke depan, kemudian pecah kembali dalam sasaran untuk sebulan ke depan. Sasaran sebulan ke depan adalah arah bagi Anda untuk beraktivitas. Jika Anda masih bingung dan sulit membayangkan kegiatan apa yang perlu Anda lakukan untuk mencapai sasaran bulanan, pecah kembali sasaran bulanan dengan kegiatan-kegiatan yang perlu Anda lakukan dalam seminggu ke depan.

3. Luangkan waktu Anda lebih banyak untuk mencapai sasaran bulanan Anda. Fokuskan kegiatan Anda pada pencapaian sasaran. Berusahalah konsisten dengan pencapaian sasaran Anda. Turuslah bertumbuh dalam tiga hal: karakter, wawasan, dan pengalaman sesuai dengan cita-cita Anda. Luangkan waktu Anda lebih banyak untuk terus bertumbuh. Jangan tergoda untuk melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan pencapaian sasaran Anda. Jangan terjebak mengikuti hawa nafsu untuk bersenang-senang tanpa arah. Anda akan menyesal kelak. Jika saat ini Anda terpaksa bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan cita-cita mulia Anda, maka bersabarlah. Cari jalan agar Anda bisa meninggalkan pekerjaan itu secara perlahan-lahan, sehingga Anda tidak mengalami kesulitan atau masalah lebih besar karena meninggalkan pekerjaan tersebut.

Buat janji Anda untuk konsisten mengejar cita-cita, tulislah janji itu di selembar kertas.

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : OBRAL BLOG | Blog Developer
Copyright © 2012. Kilau - Lembaga Kemanusiaan - All Rights Reserved