Latest Post

Tidak Usah Bilang Wow

Written By Yayasan Kilau Indonesia on Rabu, 28 November 2012 | 04.43

"Terus gw harus bilang wow gitu?" Ini dia kata-kata yang sedang happening banget. Dipopulerkan oleh sebuah sinetron remaja, hingga sekarang bukan cuma remaja saja yang latah nyeletuk pakai kata-kata itu. Anak-anak sampai ibu-ibu pun ikut-ikutan.

Terus, apa kita harus salto sambil bilang wow karena fenomena ini? Ya tidak harus, tapi kalau mau salto dari puncak gedung wisma 46, silakan kalau berani.

Kata “wow” biasanya diucapkan bila melihat sesuatu yang menakjubkan. Tapi, apakah kita harus selalu bilang wow bila menemukan sesuatu yang menakjubkan? Tidak usah. Karena sebenarnya ada kalimah thoyibah, atau kata-kata baik yang berpahala bila kita ucapkan saat melihat sesuatu yang menakjubkan.

Ucapkanlah “Masya Allah” bila bertemu dengan hal yang menakjubkan itu. Ini sesuai dengan yang dituntun oleh Al-Qur’an serta kebiasaan dalam bahasa Arab.

Tuntunan dalam Al-Qur’an bisa kita temui dalam surat Al-Kahfi ayat 37: “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan” (QS 18:39)

Dalam lisan bahasa Arab pun terbiasa mengucapkan Masya Allah pada hal-hal yang mengagumkan dan menakjubkan. Mereka tidak berkata wow sambil salto tujuh kali ke belakang melewati pohon kurma. Tapi walaupun ini kebiasaan orang Arab, kebiasaan ini bernilai pahala karena ada dzikir dalam ucapannya. Beda dengan kata “wow” yang tidak ada makna dzikir. Dan jangan berpikiran berlebihan bahwa mengganti kata wow dengan Masya Allah adalah arabisasi. Ini ibadah kok.

Bagaimana dengan kata Subhanallah? Ini adalah termasuk kalimah thoyyibah. Hanya saja, sering terjadi kesalahan kondisi pengucapan pada masyarakat kita. Subhanallah sering diucapkan oleh masyarakat kita bila menemui hal yang menakjubkan. Padahal dalam Al-Qur’an, kata subhanallah sendiri dipakai untuk mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas.

"Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?" Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau (Subhanaka). Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".(QS 34: 40-41)

"Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah (subhanallah), dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik."(QS 12: 108)

Kita perlu menyesuaikan pengucapan kalimah thoyibah dengan tuntutan Al-Qur’an. Bila bertemu hal yang menakjubkan, ucapkan masya Allah. Bila bertemu hal yang tak pantas, misalnya ada teman yang curhat: “Kenapa ya Tuhan gak mau mengizinkan gw lepas dari status jomblo,” ucapkan “Subhanallah. Maha Suci Allah dari tuduhan kamu…” Seperti itu lah.

Juga ada kalimah thoyyibah: Allahu Akbar. Ini pun bila bertemu dengan sesuatu yang menakjubkan. Kita sudah paham artinya: Allah Maha Besar. Ucapan Allahu akbar saat melihat yang mengagumkan menandakan kita kagum pada Pencipta Hal Yang Menakjubkan Itu.

Kata Allahu akbar dan subhanallah juga diucapkan dalam perjalan. Bila kita berjalan dan menemukan jalanan mendaki, ucapkan Allahu akbar. Bila bertemu jalan menurun, ucapkan subhanallah.

“Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma berkata: "Apabila kami berjalan mendaki (naik), kami bertakbir dan apabila menuruni jalan kami bertasbih” (HR. Bukhari)

Ada banyak kalimah thoyibah lain. Misalnya ucapan istirja’ bila menemukan musibah. Yaitu kalimat: Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Inilah tuntunan Al-Qur’an untuk kita.

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."” (QS 2:155-156)

Misalnya ada teman yang ngadu pada kita, “Bro, kacau bro, ban motor gw kempes diantup tawon,” jangan ucapkan: “Terus gw harus ngunyah sarang tawon sambil bilang wow gitu?” Ada ucapan yang lebih baik yaitu Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Jangan salah kaprah menyangka ucapan ini hanya bila mendengar kabar kematian.

Bagaimana bila mendapati sesuatu yang menyenangkan. Juga tidak perlu bilang wow. Apalagi sambil ngemut tugu monas. Ucapkan “Alhamdulillah”. Inilah tuntunan dalam Islam. Ucapan ini tanda syukur kita kepada Allah. Syukur secara lisan. Masih menanti syukur dalam bentuk perbuatan.

Bila memulai sesuatu, Islam menuntun kita untuk membaca basmallah. “Bismillahirrohmanirrohiim”. Bukan kata wow. Masa’ hendak makan kita bilang wow dulu?

Dan bila melakukan perbuatan kesalahan, beristighfarlah!! Ucapkan “Astaghfirullahal ‘azhiem.” Aduh, jangan sampe setelah kita berbuat dosa dengan melawan orang tua, kita malah ambil speaker keliling kampung untuk bilang wow. Na’udzubillahi min dzalik. (Semoga kita dilindungi Allah dari perbuatan demikian. Ini juga kalimah thoyyibah agar terlindung dari hal-hal buruk. Jangan bilang wow bila bertemu hal buruk.). Manusia memang tak lepas dari dosa, tapi ada kalimah thoyyibah istighfar yang membersihkan dari dosa. Bilang wow malah kesannya bangga sehingga dosa malah makin besar.

Itulah kalimah thoyyibah yang seharusnya kita ucapkan sebagai muslim. Pada berbagai kondisi, ada pahala yang menanti kita bila mengucapkan kalimah thoyyibah. Itulah indahnya Islam, ada banyak jalan untuk mencapai kebaikan. Wow.. eh… Allahu akbar..!!

***
muslimmuda

Milikilah Semenit Bahagia di Satu Jam Kehidupan

Written By AKHMAD SUGANDI on Minggu, 11 November 2012 | 18.29

CORBIS.COM
Ahli Biologi Amerika Serikat (AS), Stuart Firestein, menyarankan, dalam satu jam di setiap harinya seseorang hendaknya menikmati kebahagiannya. Setidaknya, orang tersebut harus memiliki satu menit saat-saat paling bahagia.

Setiap pekannya, dia menyarankan, seorang ahli ekonomi, ahli filsafat, ilmuwan, psikolog, hingga seniman diberikan satu menit untuk mengajukan ide, inspirasi radikal, serta kontroversial. Mereka tak peduli seberapa mustahil ide mereka bisa mengubah dunia.

Di Amerika Serikat, setidaknya masyarakatnya memiliki satu jam bahagia (Happy Hour) dalam hidupnya yang berkisar pukul 17.00 - 19.00 setiap harinya. Konsep Happy Hour perlu diterapkan di dalam kehidupan, kata dia, agar seseorang tetap bisa membahagiakan diri meskipun kesedihan selalu menghampirinya.

"Kita hanya punya waktu singkat untuk bahagia setiap harinya. Misalnya, saat seseorang mendapatkan minuman segar dan roti panggang setelah bekerja seharian," ujar Firestein, dikutip dari BBC, Ahad (11/11).

Seseorang tak harus bahagia sepanjang harinya. Menurutnya, bahagia itu lebih dari cukup meski hanya dirasakan semenit dalam satu jam setiap untuk kehidupannya, niscaya akan terus berjalan di dalam kebaikan.

ROL

Bekali Anak Kita Ilmu Bela Diri!

Written By Yayasan Kilau Indonesia on Minggu, 14 Oktober 2012 | 19.23

Sebagai amanah dari Tuhan, dan kita pun menyadari potensinya untuk kelangsungan perjuangan dakwah, maka tak salah kita begitu perhatian akan pendidikan anak. Selagi masih kecil dalam masih mudah dibentuk, rasa tanggung jawab membuat kita mengarahkan mereka pada jalan kebaikan dan menyediakannya pendidikan yang terbaik.

Apa saja pendidikan yang kita persiapkan untuk mereka? Pelajaran membaca dan menghitung adalah hal yang fundamental. Tapi selain itu, ada arahan dari Rasulullah pelajaran apa yang perlu kita beri untuk anak-anak kita.

Dalam sabdanya, Rasulullah memerintahkan: "Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah dan menunggang kuda". (H.R bukhari muslim)

Tiga hal yang diperintahkan itu adalah pelajaran ketangkasan fisik. Jadi bukan cuma aspek kognitif yang perlu diasah dari anak.

Salah satu pengajaran yang patut kita berikan atau kita sediakan pada anak adalah latihan bela diri. Ada banyak manfaat bila seorang anak menguasai bela diri.

1. Melindungi dari Bullying

Seorang anak yang jago bela diri tentu saja akan aman terhindar dari penindasan anak seusianya. Di dunia anak, khususnya anak laki-laki, menjadi jagoan adalah sebuah nilai yang mereka pandang hebat. Tak jarang untuk menunjukkan kejagoannya, seorang anak melakukan bullying atau penindasan pada anak lain yang lebih lemah. Seorang anak yang mempunyai kemampuan bela diri tentu akan segan dibully oleh anak lain.

Tapi harus ditanamkan bahwa ilmu bela diri yang dipelajarinya hanyalah sebatas pembelaan diri, bukan untuk belagak jagoan dan malah membully anak lain.

2. Melatih Kedisiplinan

Latihan beladiri mengajarkan banyak kedisiplinan. Peraturan yang melekat pada saat latihan seperti harus datang tepat waktu, membawa baju latihan, serius dan konsentrasi, dan sebagainya adalah pengajaran yang baik untuk anak. Tersedia hukuman bila anak melanggar.

Bahkan pada setiap latihan beladiri juga ada sumpah atau janji yang poinnya adalah berbuat kebaikan. Seperti misalnya sumpah karate yang diucapkan sebelum atau setelah latihan.

3. Menjaga Kesehatan

Tentu saja yang namanya olahraga akan membawa kesehatan bagi tubuh. Seorang anak akan terbantu proses pertumbuhannya dengan kondisi fisik yang bugar dan sehat.

4. Memacunya Untuk Berprestasi

Bela diri bukan sekedar latihan rutin begitu saja. Tapi dikenal peningkatan jenjang. Biasanya dikenal pewarnaan pada sabuk yang dikenakan pada baju latihan. Dalam karate ada urutan sabuk putih, kuning, hijau, coklat, hitam, dst. Peningkatan jenjang ini adalah sebuah prestasi sendiri yang membawa kepuasan pada anak.

Selain itu, anak juga bisa mengikuti even-even perlombaan. Dan ini bisa memacunya untuk berprestasi pada hal yang positif.

5. Membuatnya Menjadi Tangkas dan Kuat

Gerakan-gerakan pada latihan beladiri itu melatih ketangkasan pada anak. Reflek saat menangkis serangan lawan, kuat menerima pukulan di badan, gesit berkelebat dalam pertarungan, itu semua akan didapatnya pada latihan yang disiplin.

6. Memperluas Pegaulan

Kadang seorang anak tidak hanya menemukan teman seusianya di tempat latihan. Dia harus berinteraksi dengan anak yang lebih muda atau lebih tua yang mengenakan warna sabuk yang sama. Di situ anak belajar menghormati dan menghargai. Anak juga mendapatkan banyak teman yang tidak hanya teman sekolah atau teman lingkungan rumahnya. Ada banyak jaringan pertemanan real yang luas yang di dapatnya.

islamedia

Penyaluran Program Beasiswa Yatim dan Dhuafa

Written By Yayasan Kilau Indonesia on Selasa, 09 Oktober 2012 | 23.17



Alhmadulillah Pemberian santunan beasiswa anak yatim yg pertama sesuai dengan jadwal,ahad,7/10/2012 bertempat di DTA Islamiyah Jl.Brawijaya Ds.Pabean Ilir Kec.Pasekan-Indramayu bersama 12 anak yatim calon juara.

 "DULU ada anak yatim yg duduk disalah satu bangku madrasah ini, sekarang Ia lg kuliah dikedokteran, subhanallah... semoga anak ibu2 yg sekrg msh Madrasah kelak bs sukses. ALLAH akan menaikan derajat orang yg ber-ILMU, untuk itu tidak ada yg tdk mungkin dg pendidikan,nasib orang siapa yg tahu?"
isi sambutan kepala DTA Islamiyah ::Ust.M.Khidir,S.Pd.I::

Terimakasih buat para donatur yg sudah dgn tulus ikhlas mendoakan dan santunan beasiswa anak yatim,
Cukup ALLAH yg membalas kebaikan dengan kebaikan.

semoga bulan depan lebih baik lg.
amin..Ingin menjadi orang tua asuh bagi salah satu anak yatim binaan kami? Sekaligus berharap dapat menjadi tetangga Rasulullah di syurga kelak? Bergabung bersama komunitas pecinta Yatim bersama Kilau. klik www.gallerijuara.blogspot.com

ROHIS = Sarang Teroris…?

Written By Yayasan Kilau Indonesia on Sabtu, 22 September 2012 | 08.42

Masih lekat dalam ingatan saya kala itu. Adzan Ashar berkumandang dari Masjid At-Taqwa SMA N 1 Comal. Bukan suara “berat” ala bapak-bapak apalagi suara lemah kakek-kakek yang sudah sadar ajalnya mendekat. Suara itu begitu tegas. Khas anak muda yang dalam jiwanya masih bergelora semangat berkarya. Serempak seluruh siswa baru berseragam Pramuka SMP itu digiring ke masjid. Saya pun termasuk dalam rombongan calon penegak itu. Keadaan ini tak hanya terjadi sesekali saja, penggiringan massal “jamaah” Pramuka untuk shalat fardhu berjamaah adalah tradisi. Itu yang saya dengar dan alami sendiri. Tak cukup sampai di situ. Ambalan WR Supratman dan Fatmawati (nama satuan Pramuka Penegak di SMA saya) memiliki kebiasaan mengadakan kuliah Subuh di tiap event perkemahan yang kami selenggarakan. Meski belum sempurna, kontak langsung lawan jenis (bersalaman) juga jarang saya jumpai kala itu. Lho kok bisa? Usut punya usut, ROHIS telah bermain di sana. Asal tahu saja, di tangan merekalah Pramuka kami berjaya meski baru di level provinsi. Kamilah peserta tergiat Raimuna Daerah Jawa Tengah. Saya lupa tahun persis penyelenggaraan event bergengsi itu.

Juga di SMA N 1 Comal, saya menjumpai sosok inspiratif lain. Kakak kelas persis di atas saya, bisa mengawinkan pencapaian akademik dan organisasi dengan memuaskan. Mas Bayu, begitu saya biasa memanggilnya, adalah ketua OSIS periode 2006-2007. Dialah kontingen Olimpiade Biologi, langganan peringkat satu paralel, dan seabrek prestasi lain. Dan tahukah kamu? Salah satu aktivitas rutinnya ialah ikut bergabung dalam kajian rutin ISC (Islamic Study Club), ROHIS SMA kami tercinta. Sepanjang tak ada jadwal bentrok dengan tugasnya sebagai ketua OSIS, tiap Sabtu siang selalu saya jumpai dia bergabung dengan jamaah setia ISC.

Lagi-lagi di SMA N 1 Comal, kakak kelas dua tahun di atas saya, tak kalah hebatnya. Pirman itulah namanya. Walau diamanahi sebagai ketua OSIS di periode 2005-2006, aktivitas halaqah dan kajian rutin ROHIS ternyata masih dijabanin secara istiqamah. Eiitts…tak berhenti di situ. Dia pernah pula menjadi finalis Siswa Teladan se-Jawa Tengah, lho! Walhasil, dia menjadi salah satu kakak kelas yang paling sering saya dekati sampai dia lulus. Berharap ketularan kepandaian dan “keberutungan” yang sepertinya akrab dengan kesehariannya.

Ada lagi seorang akhwat satu angkatan dengan saya. Untuk imannya, saya tidak akan menyebut nama aslinya. Sebut saja Bunga. Ups…bukan, bukan! Anggap saja dia memiliki inisial “S”.  Tak mau kalah dengan pendahulunya, dia yang memegang salah satu amanah strategis di ROHIS ternyata juga amat prestatif. Berdasarkan sumber terpercaya, dialah satu-satunya siswa di kelasnya yang tidak pernah ikut remedial di satu mata pelajaran pun. Nilainya selalu di atas rata-rata, bahkan sering masuk kategori “memuaskan”. Tak heran kalau dia kemudian pernah mencicipi atmosfir persaingan Olimpiade Fisika se-Jawa Tengah. Peran keorganisasiannya pun tak hanya di ROHIS, ada satu lagi ekskul plus satu komunitas menulis di luar kampus yang dia geluti. Dan sepanjang yang saya dan teman-teman tahu, tak ada efek negatif yang signifikan terhadap studinya. Jadwal halaqahnya juga (masih menurut sumber terpercaya) terjaga.

Dan yang terbaru, saya mendengar kabar valid dari teman satu angkatan Mas Pirman. Saya biasa memanggil dia “Mbak N”. N adalah inisial nama panggilannya. Salah satu kawan kental Mbak N, yaitu Mbak R, belum lama ini baru kembali dari Amerika Serikat. Mbak R mendapat kesempatan menjadi salah satu perwakilan dari Jawa Tengah dalam sebuah program pertukaran pelajar di sana. Pernah saya melihatnya sekilas bersama para akhwat lain di sebuah pantai sedang bercengkerama. Setidaknya, saya berhusnuzhon, dia sepertinya berhasil memfilter hal negatif yang mungkin dia jumpai di kultur negeri Paman Sam. Beberapa kali saya “memergoki” status, komentar, dan aktivitas lain di dunia maya juga masih menunjukkan keistiqamahannya. Dan tahukah kamu? Dialah salah satu alumni ROHIS kami yang paling antusias ketika mengetahui ROHIS di SMA tercinta masih eksis. Dia pula yang vokal menyuarakan kata setuju saat saya dan beberapa teman menginisiasi silaturahim alumni ROHIS pasca Idul Fitri kemarin.
Itulah beberapa profil nyata mereka yang saya kenal sebagai didikan ROHIS. Dalam penilaian saya, minimal ada tiga keywords yang cocok disematkan kepada mereka: agamis, prestatif, dan kontributif. Apa yang mereka dapatkan di ROHIS dan aktivitas lainnya seakan menjadi bahan bakar kelas wahid. Dengan bahan bakar itu mereka mampu berubah menjadi sosok-sosok luar biasa. Malu memperlihatkan identitas sebagai Muslim seperti tak pernah ada dalam kamus mereka. Kegigihan menggali ilmu, mengamalkan, dan mendakwahkan dengan cara mereka masing-masing juga patut diacungi jempol. Prestasi selaku akademisi dan aktivis organisasi bak makanan sehari-hari, sudah biasa dijumpai. Dan terakhir, kontribusi dan kebermanfaatan mereka bagi orang di sekelilingnya tak bisa diragukan. Ketiadaannya menjadi satu hal yang amat dibenci orang sekitarnya. Sebaliknya, keberadaannya dalam membersamai rekan-rekannya adalah spirit tersendiri yang dampaknya bisa menggairahkan dalam tiap menempuh aktivitas.
Lalu, mungkinkah ROHIS menjadi sarang TERORIS? Pasti mereka yang memiliki akal jernih yang bebas polusi akan dengan mudah menjawab pertanyaan retoris ini. Dan ini baru secuil potongan kecil puzzle kisah nyata dan pribadi alumni ROHIS di negeri ini.
# SAVE ROHIS.

Sumber: dakwatuna

Program Cerahkan Senyum Anak Bangsa

Mencipta Generasi Berpengetahuan
 
Bila kemajuan suatu bangsa identik dengan kualitas pendidikan,
Akankah kita membiarkan generasi kita miskin tak berpengetahuan?
Bila kita melihat generasi tak berdaya dalam masalah biaya,
Akankah kita membiarkan harta kita tak berdaya guna?
Cukuplah mengingat dengan…..
"Kalian tidak akan mendapatkan kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya" (Q.S Ali Imron:92)








Jika Anda menjadi orang tua asuh, maka :

1. Anda dapat mendapatkan Laporan Reguler Anak Asuh tiap semester yang berisi tentang:
  prestasi akademik,
  kondisi kesehatan,
  kondisi keluarga,
prestasi keagamaan, dan 
  Foto diri anak asuh
2. Anda dapat mengunjungi mereka setiap saat
3. Anda akan mendapatkan kepuasan dan mendapatkan ketenangan karena telah menafkahkan harta di jalan kebaikan.Dan, itu pasti!
Investasikan harta Anda hanya:
  • Rp.100.000/bulan/anak (SD)
  • Rp.150.000/bulan/anak (SMP)
  • Rp. 200.000/bulan/anak (SLTA)
Semoga nama Sahabat disebut dalam bait panjang doa mereka. Ingin berpartisipasi dalam program ini? KLIK DISINI
 

Apakah Saya Terlalu Keras Mendisiplinkan Anak?

Pernakah anda mendengar curhat orang tua sepert ini, "Semakin keras saya berbicara dengan anak-anak saya--sebagai contoh, ketika mereka lari ke tengah jalan tanpa tengok kanan-kiri--maka mereka semakin kesal dan terganggu. Bagaimana saya bisa memastikan mereka memahami tingkat keseriusan situasi tertentu tanpa membuat mereka merasa lebih buruk?". Keluhan itu diungkapkan oleh orang tua bernama Zoe di situs Kids Healths.

Mungkin ada baiknya mengingat ungkapan berikut. "Situasi mendesak butuh sikap mendesak". Ketika anak-anak anda dalam risiko keamanan tinggi--apakah ia berlari ke jalan tanpa melihat kanan-kiri, mendekati kompor dan api yang berkobar atau berjalan tepat di tepi kolam---berteriak, menjerit dan malah menangis kadang adalah respons yang dibutuhkan. Lagi pula, setiap orang tua bakal melakukan apa pun untuk mendapat perhatian anak-anak anda dan membuat mereka terjauh dari bahaya.

Setelah episode menegangkan berakhir, biasanya si anak akan menangis. Tak perlu khawatir karena itu adalah hal alami dan anda bisa menggunakan saat itu untuk meminta maaf.

Tapi, menurut pakar anak di Kids Health, tangisan anak usai peristiwa berbahaya cenderung respons terhadap rasa takut dan sifat mendesak dalam suara anda, bukan karena anda terlalu keras. Di saat ini orang tua sebaiknya menenangkan anak dan tanpa meminta maaf pun bukan masalah.

Beri anak anda pelukan dan ungkapkan kalimat seperti, "Saya tahu kamu kesal, namun yang kamu lakukan barusan sangat berbahaya dan saya takut sekali kamu akan terluka. Kamu tidak boleh melakukan itu lagi". Ingatlah, menghukum anak setelah peristiwa menguras energi seperti tadi biasanya tak perlu, lantara mereka kemungkinan besar belajar dari pengalaman. Hal terpenting pantau si bocah apakah mereka memang menjadi lebih berhati-hati setelah itu atau tidak sama sekali.

Yang patut diwaspadai, ada saat ketika orang tua terlalu keras alias terlalu streng (istilah prokem saat ini) dengan sering berteriak hanya untuk kesalahan kecil. Sikap ini mesti dievaluasi sebab bisa menjadi bumerang bagi orang tua. Anak-anak suatu saat bisa kebal terhadap reaksi berlebihan orangtua dan tak menanggapi serius ucapan mereka.

Bila anda merasa sering berteriak dan mulai terjebak dalam kebiasaan ini, cobalah bersabar, tariklah nafas sejenak sebelum merespon perilaku anak. Coba tanyai diri sendiri. "Apakah saya hendak melakukan reaksi berlebihan?". Jika itu yang anda rasakan, menyingkirklah sejenak untuk beberapa menit dan kembalilah ketika anda sudah tenang.

Secara umum, pakar tumbuh kembang dan psikologi anak menyarankan, ketika ingin mendisiplinkan anak, cara terbaik adalah berbicara dengan suara rendah tapi tetap tegas dan tetap fokus terhadap perilaku selip mereka, bukan ketidaksukaan anda terhadap si kecil.

Menggunakan taktik konsekuensi alami juga membantu, seperti ketika anak anda melempar mainan, maka mintalah ia untuk mengambil mainan itu dan meletakkan ke tempat semula. Atau, ketika ia mengambil paksa barang milik saudaranya, minta dia untuk mengembalikan dengan sopan. Bila ia tak mau patuh melakukan, berikan sanksi berupa diam di satu tempat--tentu disesuaikan usia--atau konsekuensi lain, terlepas tangisan keras anak anda. Konsistensi adalah kunci penting dalam mendisiplinkan buah hati anda.

Kadang penerapan sanksi terasa berat bagi orang tua terutama bila si bocah menangis. Namun percayalah pada diri anda, ketika anda hendak mendisiplinkan buah hati anda, itu karena didorong perasaan cinta dan kasih sayang, demi melihat mereka menjadi pribadi lebih baik. Lagi pula cinta juga mengandung ketegasan, bukan sikap yang lembek dan lemah. Justru ketika anda menyerah karena anak menangis, sikap itu hanya akan melanggengkan sifat buruk mereka.


Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
ROL

Ketuk Pintu Mustahik, (Lagi) KILAU Serahkan 100 Paket Buka Puasa

Written By Yayasan Kilau Indonesia on Kamis, 09 Agustus 2012 | 02.12


Tok, tok, tok “Assalamu’alaykum, Ibu... punten ini ada paket buka puasa dari KILAU” ujar Amad seorang sahabat Relawan Kilau ketika mengunjungi seorang mustahik sore kemarin (Rabu, 8/8/2012). Sore kemarin KILAU kembali melakukan aksi tebar paket buka puasa di Blok Bonjot Desa Totoran Pasekan, menelurusi jalan tanah di wilayah tersebut kilau mengetuk seratus rumah warga miskin menyerahkan Paket Buka Puasa titipan para donatur.


Acara dimulai dari basecamp aksi di rumah salah satu relawan di Desa Totoran pada pukul 16.30. Berangkat menggunakan sepeda motor, tiga belas sahabat relawan KILAU berangkat ke Blok Bonjot membawa 100 paket buka puasa untuk dibagikan. Rasa antusias dan syukur  terpancar dari wajah setiap mustahik yang menerima paket tersebut.


Pada Bulan Ramadhan ini KILAU menawarkan program Cemerlang Ramadhan 2012 yang terdiri atas Tebar Paket Buka Puasa, Kado Lebaran Bagi Yatim Dan Dhuafa, Wakaf Qur'an dan Penyaluran Zakat-Infaq-Sedekah bagi para donaturnya. Nuryaman, salah satu relawan KILAU mengatakan para donatur dapat menyalurkan bantuannya melalui Bank Mandiri nomor rekening 134.000.680.4321 an. Yayasan Kilau Indonesia.

(AS)

KILAU Beraksi, 100 Paket Buka Puasa Terdistribusi

Written By Yayasan Kilau Indonesia on Minggu, 29 Juli 2012 | 21.31

KILAU kembali melakukan aksi. Kali ini tim KILAU melakukan pendisribusian paket buka puasa, sebanyak 100 paket. Kali ini Pendistribusian paket itu bekerjasama dengan sebuah mushola di pelosok desa Teluk Agung sebuah desa di pinggiran kota Indramayu.
Dimulai sekitar pukul 17.00 sore acara yang diselenggarakan seminggu setelah dimulainya Bazaar Pahala Ramadhan ini mendapat animo yang sangat positif dari masyarakat yang hadir. Bapak Mujtahid selaku tuan rumah menyambut positif terselenggaranya  kegiatan ini sebagai bentuk optimalisasi kepedulian sosial bagi masyarakat Indramayu.

Pada Bulan Ramadhan ini KILAU menawarkan program Cemerlang Ramadhan 2012 yang terdiri atas Tebar Paket Buka Puasa, Kado Lebaran Bagi Yatim Dan Dhuafa, Wakaf Qur'an dan Penyaluran Zakat-Infaq-Sedekah bagi para donaturnya. Isnaeni, salah satu pengurus KILAU mengatakan para donatur dapat menyalurkan bantuannya melalui Bank Mandiri nomor rekening 134.000.680.4321 an. Yayasan Kilau Indonesia.

(AS) 
 
Support : OBRAL BLOG | Blog Developer
Copyright © 2012. Kilau - Bekerja Bersama Membangun Masa Depan Cerah - All Rights Reserved